Sanggar Seni Nusantaraku, Rumah Penjaga Budaya di Tengah Arus Ibukota

Kronikkaltim.com – Matahari mulai lepas dari peraduan. Arus lalu lintas di jalan Abdul Wahab Sjahranie, Sangatta Utara, mulai sepi. Maklum, di kawasan jalan menuju Kantor Bupati Kutai Timur (Kutim) ini masih jarang berdiri rumah penduduk.

Sekitar 20 meter dari seberang Kantor Pemadam Kebakaran (PMK) Kutim, terdapat jalan masuk menyusuri tepi sungai. Kurang lebih 200 meter perjalanan kita akan sampai pada salah satu rumah yang halamannya didesain layaknya taman bunga.

Berbagai jenis penghias bisa kita jumpai disana. Mulai dari kolam mini, jembatan kecil, panggung pentas, rumah adat, musala, sampai pada sederetan bunga dengan beraneka ragam warna dan jenis.

Terdapat pula bunga sedap malam berdiri di tengah taman yang semakin malam menebarkan semerbak keharuman. Ya, inilah Sekretariat Sanggar Seni Nusantaraku, rumah yang banyak menyimpan cerita. Kerap menjadi lokasi anak muda yang saban waktu belajar seni.

Dari pukul 15.00 sore, puluhan gadis cilik dan wanita remaja berkumpul di Sekretariat ini. Mereka tampak serius mendengarkan instruksi. Sesekali, tangan mereka bergerak mengikuti gerakan yang diperagakan oleh pelatih.

“Sekarang kita latihan tari Jepen Kutai, siapkan selendangnya,” ujar Hj. Naharia, pemilik Sanggar Seni Budaya Nusantaraku.

Wanita ini kemudian berdiri memberi contoh kepada grup gadis remaja yang tengah bersiap dengan selendang warna kuning. Ia memberi hitungan, meminta gerakan tari seirama musik yang dimainkan.

Alunan nada khas tari jepen pun dimulai. Lima wanita dalam grup dewasa ini terlihat begitu atraktif, sesekali senyum mereka lemparkan. Pergerakan bervariasi tetap membuat mereka stabil mengiring musik.

“Sepuluh menit istirahat dulu, kita evaluasi di gerakan mana yang terlihat masih kaku,” ucapnya semangat seraya memberi contoh.

Wanita 52 tahun ini pun bercerita, sejarah dan perjalanan sanggar seni nusantaraku. Sanggar Seni Budaya Nusantaraku yang berdiri sejak 2010 silam itu sempat terhenti, hingga kemudian perlahan mulai bangkit di awal tahun 2014.

“Suka dukanya banyak tapi semua sudah kita jalani. Alhamdulliah, kita sudah banyak membina anak-anak sekolah, mulai dari SD, SMP, SMA sampai pada tingkat dewasa,” kata Naharia.

Naharia menambahkan, kesenian dan budaya bukan hanya sebatas hobi atau sekedar upaya melestarikan nilai seni kebudayaan. Akan tetapi, aktivitas seni tersebut dapat menjadi peluang usaha yang menciptakan lapangan pekerjaan.

Ia mencontohkan, saat mendapat permintaan untuk menari dalam sejumlah even. Seperti acara kerukunan, paguyuban, perlombaan, kegiatan-kegiatan pemerintah yang jarang lepas dari keikutsertaannya.

“Biayanya tergantung kesepakatan aja, hasilnya ya kita bagi-bagi dengan anak-anak penari dan penata rias. Kadang juga kita dipanggil keluar daerah, nah ini lumayan buat tambah penghasilan buat anak-anak,” tuturnya.

Tidak hanya seni tari, berbagai alat kesenian juga dapat ditemui di Sekretariat Nusantaraku ini, seperti alat rebana, gendang, alat seni musik tradisional. Bahkan sampai pada alat penghias kecantikan dan seperangkat alat lamin lengkap dengan busana pengantin .(*)

Imran R Sahara